Isu keamanan psikologis siswa di lingkungan pendidikan menjadi prioritas utama bagi Yayasan Yasda dalam menciptakan suasana belajar yang sehat. Gerakan SMP Yasda Lawan Perundungan dideklarasikan sebagai bentuk komitmen nyata untuk memberantas segala bentuk tindakan kekerasan, baik fisik maupun verbal, di antara sesama siswa. Sekolah telah menyusun protokol khusus yang menjamin privasi dan keamanan bagi siapa pun yang berani bersuara mengenai tindakan negatif di sekolah. Sebagai bagian dari bimbingan konseling yang komprehensif, para siswa juga diarahkan untuk melakukan langkah tepat pilih jurusan agar mereka tetap fokus pada pengembangan potensi diri yang positif daripada terjebak dalam lingkaran pergaulan yang toksik.
Langkah awal yang dilakukan sekolah adalah memberikan edukasi mendalam mengenai definisi perundungan yang sering kali dianggap sebagai “bercanda” oleh para remaja. Melalui seminar internal, siswa diajarkan untuk mengenali tanda-tanda perilaku bullying dan dampaknya yang destruktif bagi kesehatan mental korban. Penguatan empati menjadi kunci utama dalam kurikulum pendidikan karakter di SMP Yasda. Guru-guru secara aktif mengamati interaksi siswa di luar jam kelas, termasuk di area kantin dan lapangan, untuk memastikan tidak ada senioritas atau intimidasi yang terjadi. Kesadaran kolektif untuk saling menjaga menjadi pondasi utama dalam membangun lingkungan sekolah yang harmonis dan penuh rasa hormat.
Penerapan prosedur aman dalam pelaporan adalah inovasi yang sangat ditekankan oleh manajemen SMP Yasda. Sekolah menyediakan kotak saran fisik yang diletakkan di tempat-tempat strategis namun tersembunyi, serta kanal pelaporan digital yang dapat diakses secara anonim. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan rasa takut pada korban maupun saksi mata dalam melaporkan kejadian perundungan. Setiap laporan yang masuk akan ditangani oleh tim khusus bimbingan konseling yang telah terlatih untuk melakukan investigasi secara objektif dan rahasia. Dengan memberikan perlindungan penuh pada pelapor, sekolah ingin menunjukkan bahwa integritas dan kebenaran selalu mendapatkan tempat tertinggi di lingkungan Yasda.
Selain penanganan pasca-kejadian, SMP Yasda juga fokus pada upaya preventif melalui pemberdayaan duta anti-perundungan dari kalangan siswa sendiri. Para duta ini dilatih untuk menjadi pendengar yang baik bagi teman sebaya mereka dan mampu melakukan mediasi awal jika terjadi konflik kecil antar siswa. Pendekatan dari teman sebaya sering kali lebih efektif dalam meredam ketegangan dibandingkan instruksi langsung dari guru. Dengan melibatkan siswa sebagai agen perubahan, sekolah ingin menciptakan budaya saling menghargai yang tumbuh dari bawah, bukan sekadar aturan yang dipaksakan dari atas.