Di tengah gempuran budaya pop global dan tren bahasa singkat di media sosial, kelestarian budaya lokal seringkali terancam terlupakan. Namun, di SMP Yasda, sebuah upaya nyata dilakukan untuk melawan arus tersebut melalui penguatan Tradisi Lisan. Sekolah ini meyakini bahwa identitas bangsa tercermin dari bagaimana generasi mudanya menghargai bahasa ibu dan sastra klasiknya. Salah satu fokus utama yang menjadi ciri khas sekolah ini adalah gerakan masif untuk mencintai kembali seni bertutur yang sudah ada sejak zaman nenek moyang, namun dikemas dengan cara yang relevan bagi anak muda zaman sekarang.
Gerakan untuk Menghidupkan Kembali Budaya Pantun menjadi kegiatan yang sangat dinamis di SMP Yasda. Pantun tidak lagi hanya dipelajari dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang kaku, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Mulai dari sambutan kepala sekolah, pengumuman di pengeras suara, hingga interaksi santai antar-siswa di kantin, semuanya seringkali disisipi dengan bait-bait pantun yang jenaka namun sarat makna. Hal ini bertujuan untuk melatih ketangkasan berpikir siswa dalam merangkai kata dan melatih keberanian mereka untuk tampil di depan umum dengan cara yang artistik.
Para siswa di SMP Yasda diajarkan bahwa pantun bukan sekadar susunan kata rima A-B-A-B, melainkan sebuah instrumen diplomasi dan cara berkomunikasi yang santun. Dalam pantun terdapat struktur sampiran dan isi yang menuntut kreativitas dalam mencari kiasan yang tepat. Dengan sering berpantun, kecerdasan linguistik siswa terasah secara otomatis. Mereka belajar bagaimana menyampaikan kritik tanpa menyakiti, dan bagaimana memberikan pujian tanpa harus terlihat berlebihan. Seni bertutur ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang sangat efektif dalam membentuk karakter siswa yang halus budinya namun tetap kritis pikirannya.
Penerapan kurikulum Tradisi Lisan di sekolah ini juga didukung oleh berbagai perlombaan kreatif, seperti Pantun Battle yang diadakan secara rutin. Dalam kegiatan ini, siswa saling berbalas pantun dengan tema-tema kekinian, seperti isu lingkungan, pentingnya belajar, hingga tips menghadapi ujian. Suasana yang tercipta sangat riuh dan menggembirakan, jauh dari kesan bahwa budaya lokal itu kuno atau membosankan. Inovasi ini berhasil menarik minat siswa untuk mengeksplorasi lebih jauh kekayaan kosakata bahasa Indonesia dan dialek lokal, sehingga mereka merasa bangga dengan akar budayanya sendiri.